4.01.2009

Belajar dari Bencana

Oleh : Ach. Syaiful A'la

“Tiada bencana yang tidak bisa menjadi sebuah keberkahan, dan tidak ada keberkahan yang tidak bisa berubah menjadi bencana.” (Rechard Bach, Penulis AS).

Ada bermacam bencana yang diturunkan kepada manusia (Baca:Hasyim Muzadi, 2007). Pertama, bencana sifatnya mengingatkan manusia yang lupa (tazkirah), agar mereka menghentikan kesalahan yang mereka lakukan. Kedua, bencana beruapa azab, yaitu akumulasi dari pelbagai kerusakan dimuka bumi, sehingga Allah membinasakan seperti yang menimpa kaum sebelum Nabi Muhammad. Ketiga, musibah sifatnya netral. Artinya, musibah datang kepada kita diakibatkan oleh perbuatan orang lain.

Tulisan diatas sebenarnya menjadi renungan bagi kita bersama, disaat negara dilanda pelbagai macam bencana. Dimulai, 1 Januari 2007, dimulai dengan kecelakaan pesawat domistik Adam Air. 29 Januari, kereta api anjlok di Bange dua Cirebon Jawa Barat, yang kemudian diikuti dengan anjloknya beberapa kereta api yang lain dibulan-bulan berikutnya. 7 Pebruari, kapal Lavina tenggelam di Selat Sunda. 11 Maret, tenggelamnya K.M. Sanopati di Perairan Mandalika Jawa Tengah.

Kejadian berikutnya silih berganti, seperti 6 Juni, sebuah Bus masuk jurang di desa Karang Kemiri, Banyumas, Jawa Tengah dan seterusnya sampai bencana banjir, longsor, kebakaran hutan, kebakaran pasar, pabrik, pertokoan dan lain-lain.
Termasuk kereta anjlok dari rel, kereta bertabrakan, rangkaian gerbong lepas, gerbong amrol karena atapnya dimuati sekian banyak penumpang. Sampai longsor di lereng Gunung Lawu, kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Banjir yang melanda Ngawi-Caruban, Kabupaten Madiun, bahkan bisa dikalkulasi sekitar 13 kabupaten di Jawa Timur dalam tempo dekat ini dikepung bencana. Ratusan nyawa melayang, ratusan rumah, tempat ibadah, beberapa sekolah, jembatan ambruk, jalan raya tak bisa lagi digunakan karena genangan air, fasilitas komunikasi dan aliran listrik tak lagi berfungsi (Dumas, 2008).

Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat 49 telah memberikan sinyal kepada kita, bahwa kerusakan yang terjadi di laut dan di darat diakibatkan oleh ulah-tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Mahatma Gandi, pernah mengingatkan dalam kalimatnya “Alam memang telah menyediakan segalanya, akan tetapi semua itu tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.”

Ada Keberkahan
Seolah berbicara bencana seperti tidak ada berkahnya. Yang namanya bencana jelas sesuatu yang sulit dan sangat menyusahkan, apalagi sampai makan korban jiwa. Semuanya mempunyai makna yang berarti.

Pertama, peringatan terhadap diri kita sendiri sebagai makhluk (khalifah) di bumi, bahwa alam ini amanah dari Allah SWT. untuk dipelihara, dilestarikan dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk mendekatkan kepada-Nya.
Tapi, terkadang kita lupa, berapa lama kita menikmati indahnya panorama alam, hampir tidak – bahkan sama-sekali – berterima kasih kepada Allah SWT. Baru ketika bencana banjir, longsor melanda, semua berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Kedua, kebijakan pemerintah yang tidak memihak lingkungan. Seolah-olah pemerintah tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hal ini bisa kita lihat munculnya beberapa bencana yang terjadi. Misalnya, kebijakan pemimpin yang tidak pro lingkungan, baik di level eksekutif, di lingkup legeslatif dan para penegak hukum.
Masyarakat sering disuguhi berita tentang lolos atau larinya pelaku illegal logging. Kalaupun ditangkap, vonis dan disanksi masih belum adil, karena tidak sepadan dengan perbuatannya berefek kerusakan lingkungan.

Berkaca Dari Bencana
Krisis moneter yang berkepanjangan berakibat tingginya angka kemiskinan. Manusia banyak kufur (nikmat) atas pemberian Allah SWT. Seperti Hadis Nabi : “kadal fakru ayyakuna kufran” (kefakiran bisa menjadi penyebab kekufuran).
Terkadang kita buruk sangka (su’udzon) kepada Allah SWT. kenapa bencana banyak terjadi hanya di Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke? Sementara negara tetangga lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Australia tidak terkena bencana?
Kalau kita menyimak apa yang dipaparkan Hasyim Muzadi diatas, hal itu tidak perlu diperdebatkan. Bisa kita tilik, banjir dan longsor beberapa pekan ini terjadi disebabkan oleh penebangan hutan secara liar (manusia yang kufur nikmat).
Hutan tidak lagi berfungsi sebagai gudang air. Air hujan dari langit, pada akhirnya air tidak bisa diserap akar pohon di hutan atau pegunungan. Sehingga tak lagi mampu menampung luapan air, akibatnya banjir.

Lebih dalam lagi, penebangan hutan secara liar terjadi dianggap pekerjaan (profesi) oleh rakyat, karena kurangnya penyediaan lapangan kerja oleh pemerintah. Disamping pemerintah juga tidak pro lingkungan. Pada sebuah kesimpulan, penebangan hutan secara liarpun dianggap pekerjaan “halal” oleh rakyat. Padahal dampak negatifnya sangat besar.

Melalui tulisan ini, penulis berharap dengan adanya beberapa bencana, menjadi bahan evaluasi dan renungan bersama. Tidak hanya pemerintah yang dituntut sebagai pengambil kebijakan, begitu juga kita warga Indonesia bertanggung jawab menjaga kelestarian alam. Dengan mewujudkan sistem kepedualian terpadu antara pemerintah dengan rakyat, bencana tidak akan terulang lagi. Semoga!

1 komentar:

Boku no Blog mengatakan...

Kita harus tabah dalam menerima musibah...
Lam kenal and kunjungi Blogku juga ya..

Posting Komentar

NAMA:
E-MAIL:
KOMENTAR:

Belajar dari Bencana

Oleh : Ach. Syaiful A'la

“Tiada bencana yang tidak bisa menjadi sebuah keberkahan, dan tidak ada keberkahan yang tidak bisa berubah menjadi bencana.” (Rechard Bach, Penulis AS).

Ada bermacam bencana yang diturunkan kepada manusia (Baca:Hasyim Muzadi, 2007). Pertama, bencana sifatnya mengingatkan manusia yang lupa (tazkirah), agar mereka menghentikan kesalahan yang mereka lakukan. Kedua, bencana beruapa azab, yaitu akumulasi dari pelbagai kerusakan dimuka bumi, sehingga Allah membinasakan seperti yang menimpa kaum sebelum Nabi Muhammad. Ketiga, musibah sifatnya netral. Artinya, musibah datang kepada kita diakibatkan oleh perbuatan orang lain.

Tulisan diatas sebenarnya menjadi renungan bagi kita bersama, disaat negara dilanda pelbagai macam bencana. Dimulai, 1 Januari 2007, dimulai dengan kecelakaan pesawat domistik Adam Air. 29 Januari, kereta api anjlok di Bange dua Cirebon Jawa Barat, yang kemudian diikuti dengan anjloknya beberapa kereta api yang lain dibulan-bulan berikutnya. 7 Pebruari, kapal Lavina tenggelam di Selat Sunda. 11 Maret, tenggelamnya K.M. Sanopati di Perairan Mandalika Jawa Tengah.

Kejadian berikutnya silih berganti, seperti 6 Juni, sebuah Bus masuk jurang di desa Karang Kemiri, Banyumas, Jawa Tengah dan seterusnya sampai bencana banjir, longsor, kebakaran hutan, kebakaran pasar, pabrik, pertokoan dan lain-lain.
Termasuk kereta anjlok dari rel, kereta bertabrakan, rangkaian gerbong lepas, gerbong amrol karena atapnya dimuati sekian banyak penumpang. Sampai longsor di lereng Gunung Lawu, kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Banjir yang melanda Ngawi-Caruban, Kabupaten Madiun, bahkan bisa dikalkulasi sekitar 13 kabupaten di Jawa Timur dalam tempo dekat ini dikepung bencana. Ratusan nyawa melayang, ratusan rumah, tempat ibadah, beberapa sekolah, jembatan ambruk, jalan raya tak bisa lagi digunakan karena genangan air, fasilitas komunikasi dan aliran listrik tak lagi berfungsi (Dumas, 2008).

Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat 49 telah memberikan sinyal kepada kita, bahwa kerusakan yang terjadi di laut dan di darat diakibatkan oleh ulah-tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Mahatma Gandi, pernah mengingatkan dalam kalimatnya “Alam memang telah menyediakan segalanya, akan tetapi semua itu tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.”

Ada Keberkahan
Seolah berbicara bencana seperti tidak ada berkahnya. Yang namanya bencana jelas sesuatu yang sulit dan sangat menyusahkan, apalagi sampai makan korban jiwa. Semuanya mempunyai makna yang berarti.

Pertama, peringatan terhadap diri kita sendiri sebagai makhluk (khalifah) di bumi, bahwa alam ini amanah dari Allah SWT. untuk dipelihara, dilestarikan dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk mendekatkan kepada-Nya.
Tapi, terkadang kita lupa, berapa lama kita menikmati indahnya panorama alam, hampir tidak – bahkan sama-sekali – berterima kasih kepada Allah SWT. Baru ketika bencana banjir, longsor melanda, semua berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Kedua, kebijakan pemerintah yang tidak memihak lingkungan. Seolah-olah pemerintah tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Hal ini bisa kita lihat munculnya beberapa bencana yang terjadi. Misalnya, kebijakan pemimpin yang tidak pro lingkungan, baik di level eksekutif, di lingkup legeslatif dan para penegak hukum.
Masyarakat sering disuguhi berita tentang lolos atau larinya pelaku illegal logging. Kalaupun ditangkap, vonis dan disanksi masih belum adil, karena tidak sepadan dengan perbuatannya berefek kerusakan lingkungan.

Berkaca Dari Bencana
Krisis moneter yang berkepanjangan berakibat tingginya angka kemiskinan. Manusia banyak kufur (nikmat) atas pemberian Allah SWT. Seperti Hadis Nabi : “kadal fakru ayyakuna kufran” (kefakiran bisa menjadi penyebab kekufuran).
Terkadang kita buruk sangka (su’udzon) kepada Allah SWT. kenapa bencana banyak terjadi hanya di Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke? Sementara negara tetangga lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Australia tidak terkena bencana?
Kalau kita menyimak apa yang dipaparkan Hasyim Muzadi diatas, hal itu tidak perlu diperdebatkan. Bisa kita tilik, banjir dan longsor beberapa pekan ini terjadi disebabkan oleh penebangan hutan secara liar (manusia yang kufur nikmat).
Hutan tidak lagi berfungsi sebagai gudang air. Air hujan dari langit, pada akhirnya air tidak bisa diserap akar pohon di hutan atau pegunungan. Sehingga tak lagi mampu menampung luapan air, akibatnya banjir.

Lebih dalam lagi, penebangan hutan secara liar terjadi dianggap pekerjaan (profesi) oleh rakyat, karena kurangnya penyediaan lapangan kerja oleh pemerintah. Disamping pemerintah juga tidak pro lingkungan. Pada sebuah kesimpulan, penebangan hutan secara liarpun dianggap pekerjaan “halal” oleh rakyat. Padahal dampak negatifnya sangat besar.

Melalui tulisan ini, penulis berharap dengan adanya beberapa bencana, menjadi bahan evaluasi dan renungan bersama. Tidak hanya pemerintah yang dituntut sebagai pengambil kebijakan, begitu juga kita warga Indonesia bertanggung jawab menjaga kelestarian alam. Dengan mewujudkan sistem kepedualian terpadu antara pemerintah dengan rakyat, bencana tidak akan terulang lagi. Semoga!

Bookmark and Share

1 komentar:

Boku no Blog mengatakan...

Kita harus tabah dalam menerima musibah...
Lam kenal and kunjungi Blogku juga ya..

Posting Komentar

NAMA:
E-MAIL:
KOMENTAR: